Nasib Kios Pasar Souvenir di Wisata Pantai Camplong-Sampang

12 Jul 2010

WISATA Pantai Camplong kemarin (10/7) ramai dikunjungi wisatawan. Juru

parkir mobil dan sepeda motor pun terlihat bingung mengatur posisi agar

bisa menampung sebanyak mungkin kendaraan. Petugas tiket masuk areal

pantai juga terlihat sibuk.

Sayangnya, kesibukan itu tak terlihat pada kios yang dibangun di bagian

depan dan belakang pintu masuk areal wisata pantai tersebut. Di bagian

depan, ada sekitar 12 kios. Namun, yang buka hanya dua kios. Satu kios

milik salah satu kepala desa di Kec Camplong dan satu lagi milik

organisasi keperempuanan PKK Sampang.

Melalui pintu masuk areal pantai, koran ini juga memperhatikan puluhan

kios lainnya di dalam. Kondisinya hampir sama dengan di bagian depan.

Di bagian ini hanya ada sekitar empat kios yang buka.

Koran ini mendatangi satu per satu kios yang buka. Kios milik salah

satu kepala desa di Kec Camplong dijaga oleh Haniyatun. Dia dibayar per

bulan untuk terus buka. “Setiap hari hanya kios ini yang buka. Kalau

yang lain tutup, paling hanya buka hari Sabtu dan Minggu. Itu pun kalau

buka,” tandas Haniyatun.

Menurut dia, setiap hari dalam seminggu hanya dua hari yang paling bisa

diharapkan mendatangkan hasil. Yakni, dua hari di akhir pekan. “Jika

akhir pekan tiba, penjualan bisa mencapai Rp 200 ribu sehari. Tapi

kalau hari biasa paling hanya Rp 10 ribu-Rp 50 ribu saja. Paling-paling

orang beli rokok saja,” ujarnya. Namun, pada hari libur tak hanya rokok

dan minuman yang laris. Juga batik dan suvenir yang dijual di tokonya.

Dari kios Haniyatun koran ini mendatangi kios milik PKK. “Kami hanya

buka Sabtu-Minggu. Tapi dua minggu ini kan musim libur sekolah, kami

buka tiap hari. Kalau lagi ada acara atau kegiatan di Camplong, juga

pasti buka,” ujar Betti, pelayan di kios PKK.

Ditanya penghasilannya setiap buka kios, Betti mengaku tak terlalu

banyak seperti yang dibayangkan saat pembukaan Pasar Suvenir Camplong

pada Februari 2010 lalu. “Kalau orang dekat-dekat sini paling hanya

beli minuman dan camilan. Baru kalau ada warga luar Madura, mereka

pasti beli batik,” ungkapnya.

Dari depan koran ini menemui pedagang di bagian belakang. Wahid,

pedagang lain, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi bisnis di area

wisata tersebut. Menurut dia, pemerintah seharusnya segera mengambil

alih pengelolaan wisata Camplong agar bisa menarik pengunjung. “Saya

jarang sekali buka Mas. Siapa yang mau buka tiap hari kalau tidak ada

pembelinya? Sekarang saya buka karena besok ada acara,” ungkapnya.

Hal yang sama juga disampaikan Hardi, pemilik kios di bagian depan.

Menurut dia, meski ada di bagian depan kondisinya sama saja dengan

mereka yang berjualan di bagian belakang. “Kalau tidak liburan dan ada

kegiatan di sini, apa yang mau dilihat. Lha wong Camplong ya gini-gini

aja,” sesalnya.

Dia mengaku pernah mencoba buka tiap hari dengan menyewa pekerja toko.

Namun, hasil jualan sehari-hari terlalu sedikit. “Bayar pekerja paling

murah Rp 250 ribu. Setiap bulan kami harus bayar cicilan kontrak, lalu

untungnya mana yang mau dimakan?” ungkapnya.

Pengelola Koperasi Pondok Wisata Camplong Hernandi Kusumahadi mengakui

banyaknya keluhan pedagang tersebut. Menurut dia, di Camplong ada 40

kios yang dibangun. Saat diresmikan, semua kios sudah ada pedagang yang

mengontraknya. “Tapi, ya hanya segitu yang buka. Masalahnya, hasil

berjualan di sana lebih kecil dibandingkan operasionalnya. Makanya,

kami mau mengevaluasi ini dengan pihak terkait dari pemerintah,”

ujarnya.

Menurut dia, saat peresmian 40 kios tersebut sudah terisi dan sempat

dibuka. Namun, setelah beberapa hari puluhan kios tutup hingga saat

ini. “Kalau ada kegiatan, kami selalu mengingatkan dan mengirim surat

pada pengontrak kios agar buka. Tapi kondisinya ya seperti itu. Mau

bagaimana lagi lha wong Camplong memang sepi,” tandasnya. (mat)

Sumber berita : http://www.jawapos.co.id/radar/ oleh Nur Rakhmad

Akhirullah


TAGS


-

Author

Follow Me